Home

nges

Tanpa harus menunggu, Dewi (43) segera bergerak, mengayuh sampannya yang tampak kusam termakan usia menuju ke tepian sungai.

Bermodalkan dua buah kayuh yang diikatkan pada sampan berukuran sekitar 1 meter x 4 m itu, ia tetap bersemangat, meski peluh keringat terus mengaliri raut wajahnya yang tak lagi muda.

Topi yang dikenakan bahkan tak mampu menghalau teriknya matahari.

Siang itu, Kamis, 3 Januari 2013 sejumlah orang telah menunggu di pinggir sungai untuk di seberangkan.

Dengan sigap, ia pun segera menghampiri penumpang yang telah menunggu.

“Hati-hati,” katanya sambil membantu penumpang menaiki sampan yang mampu memuat sekitar lima orang ini.

Dewi merupakan gambaran seorang pengojek sampan yang masih bertahan di tengah pesatnya pembangunan sarana transportasi di Pekanbaru saat ini.

Berganti Profesi Demi Mencari Rezeki

Melakoni pekerjaan sebagai pengojek sampan selama 28 tahun, Ia sehari-hari mengojek sampan di daerah Rumbai Pesisir, dekat dengan proyek Jembatan Siak IV yang masih dalam proses pembangunan.

Pembangunan jembatan penyeberangan membuat orang-orang yang sebelumnya menggunakan jasa penyeberangan ojek sampan, kini lebih memilih menggunakan kendaraan bermotor melewati jembatan.

Apalagi, pemerintah daerah kini sudah membangun tiga jembatan menyeberangi Sungai Siak yang memudahkan akses masyarakat.

Tak ayal, hal itu mengakibatkan pendapatan Dewi dan rekan-rekan pengojek sampan lain menurun drastis.

“Setelah makin banyak jembatan di Pekanbaru, warga lebih mudah menyeberangi Sungai Siak dan pendapatan ojek sampan makin menyusut,” katanya.

Ia mengatakan puluhan tahun lalu Pekanbaru sangat identik dengan ojek sampan yang banyak ditemui di tepian Sungai Siak.

Tak heran, Dewi menceritakan dulu dalam sehari ia bisa mengumpulkan hingga Rp100 ribu karena penumpang sampan bisa mencapai ratusan dalam sehari. Namun kini ia paling banyak hanya bisa mengumpulkan Rp30 ribu sehari.

Wajar  ia mengatakan jumlah ojek sampan kian sedikit karena sudah banyak yang beralih profesi.

Melihat kondisi, kini ia pun harus segera mencari profesi lain, seperti yang dilakukan pengojek sampan lainnya. Dewi pun berencana untuk membuka usaha warung dari uang kompensasi yang diberikan pemerintah kepada para pengojek sampan.

“Kalau jembatan sudah selesai, rencananya mau buka warung. Karena saya tidak punya keahlian lain,” ujarnya Dewi

Ojek Sampan Belum Mati

Meski jembatan telah dibangun, masih saja ada orang yang memilih menggunakan jasa ojek sampan, seperti hal nya Nurbaiti (50).

Ia mengaku lebih menyukai menggunakan ojek sampan dibandingkan menyeberangi sungai menggunakan angkutan kota.

“Saya tidak perlu mutar-mutar, apalagi untuk anak sekolahan, apalagi ongkosnya juga cuma Rp 2000 sekali menyeberang,” katanya.

Ia mengaku sangat menyayangkan apabila para pengojek sampan harus berhenti bekerja karena tak ada peminat lagi, karena mereka sudah menjadi bagian dari budaya Kota Pekanbaru.

“Semoga mereka dapat kesempatan kerja yang lain,” katanya.(Panji Wibowo)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s