Home
b
Banyak cara untuk menjalin kebersamaan dan keakraban. Salah satunya melalui olahraga. Dengan berolahraga seseorang bisa meraih kesehatan juga menjalin persaudaraan.

Langkah Putra tergesa-gesa ketika tiba di sebuah Gedung Olah Raga (GOR) yang berada di salah satu sudut kota Pekanbaru. Malam itu, ia akan bermain disana..

Putra memang bukan olahragawan, apalagi atlet terkenal, ia merupakan anak transmigran sukses yang kini menjadi seorang wartawan di surat kabar terbesar, terdepan dan pertama dibaca di Riau.

Kebetulan ia menyenangi olahraga yang telah berkontribusi besar dalam mengharumkan nama Indonesia di mancanegara.

Bersama beberapa teman lainnya, tiap Selasa malam, Putra selalu menyempatkan diri bermain di gedung berwarna putih dan memiliki tiga lapangan bermain itu.

Bagi Putra, bermain Bulutangkis di gedung yang terletak di sebelah sebuah SMK di Jalan Amal Mulia itu bukan hanya sekadar hobi, namun juga menjadi ajang bersilaturahmi bersama teman sejawat yang kini jarang ia temui.

“Disempet-sempetin aja. Biar telat ga masalah,” kata lelaki berparas khas Jawa ini.

Bersama  11 teman lainnya, Ia tergabung dalam klub SuskaFM. Bukan klub Bulutangkis profesional, mereka yang bermain malam itu merupakan mahasiswa dan alumni Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau yang ingin mencari kebahagiaan dengan olahraga.

Kebahagiaan itu pula yang dirasakan oleh pemain SuskaFM lainnya, Eko, yang mengatakan banyak hal didapat dari berkumpul dan berolahraga bersama.

“Selain bisa sehat, juga ajang curhat berbagai hal dan juga nostalgia. Apalagi di tengah rutinitas masing-masing. Akhirnya, Bulutangkis lah yang kami pilih untuk dimainkan,” kata mahasiswa yang  juga seorang karyawan radio berita swasta yang memiliki slogan ‘the best news and information’.

“Itung-itung ngurangi berat badan beberapa ons,” kata lelaki bertubuh subur ini seraya tertawa.

Olahraga Tak Membedakan Suku, Apalagi Gender

Jhoni, yang juga ikut bermain malam itu mengatakan selain menyehatkan, dengan berolahraga bisa menjadi ajang berbagi informasi.

“Bisa soal kerjaan, gadget, atau apapunlah. Jadi ga Cuma olahraga aja,” ujar lelaki bermata sipit dan berkulit putih yang terlihat layaknya keturunan  Etnis Tionghoa lainnya.

Selain itu, menurut Jhoni, olahraga bukan monopoli kaum adam, apalagi gender atau suku tertentu.

“Disini juga ada perempuan yang bergabung, malahan tiga. Kami juga dari berbagai latar belakang suku yang berbeda,” katanya yang mengaku sejak bermain Bulutangkis tubuhnya kini menjalan lebih atletis. 

Disadari atau tidak olahraga telah menjadi alat pemersatu berbagai suku dan gender, seperti yang tersaji malam itu. Jawa, Melayu, Minang dan campuran Tionghoa ada disana. Mereka dipersatukan oleh raket dan shuttlecock yang terangkai dalam kata bernama “olahraga”. (Panji Wibowo)

Advertisements

3 thoughts on “Bersatu Dengan “Bulu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s