Home

Pagi ini, seorang tetangga saya meninggal dunia. Saya tidak tahu apakah dia perempuan atau laki-laki, apalagi jika ditanya perihal namanya.

Saya memang datang melayat kerumahnya, tapi hanya sebentar. Mungkin untuk menghilangkan rasa sungkan antar tetangga.

Di lingkungan ini saya memang tak begitu dikenal, apalagi kalau bukan karena saya jarang berkumpul bersama. Mungkin dari 10 undangan, hanya satu yang didatangi.

Sepertinya ada sesuatu yang salah dengan interaksi sosial. Alasannya, ya malas. Malas untuk sesuatu yang saya anggap tidak penting.

Tapi, bukan soal interaksi yang ingin saya ceritakan. Namun tentang peristiwa kematian atau meninggal dunia tadi.

Ketika melihat peristiwa kematian, memori saya selalu terbawa ke masa beberapa tahun lalu. Tepatnya 28 Januari 2008.

Saat itu bapak meninggal dunia, hari Senin peristiwa itu terjadi. Dan Senin selalu memberikan kecemasan pada saya.

Pagi itu sekitar pukul 7 pagi, ketika saya yang saat itu masih kelas 12 SMA hendak pergi ke sekolah.

Tiba-tiba bapak mengeluhkan sakit di dadanya, namun saya tidak begitu cemas. Bapak memang sering merasa sakit di dada dan pingsan beberapa waktu sebelumnya. Bapak memang punya riwayat hidup yang tidak sehat.

Hingga menjelang hari itu, bapak masih menjadi perokok aktif. Apalagi pada 2002 bapak terserang penyakit stroke.

Periode itu saya masih kelas 6 SD. Saya yang menemanibapak di dalam kamar yang berukuran sekitar 3 M x 2 M.

Bapak kesulitan bernafas, dari ekspresi wajahnya terlihat kesakitan yang teramat sangat. Bahkan hingga air matanya terurai mengaliri pipinya. Spontan saya membisikkan lafaz kata-kata Allah di telinga bapak.

Berulang-ulang saya bisikkan, tapi saya tak tahu apakah bapak sempat mengucapkan kata-kata tersebut. Pikiran saya terlalu kalut, jatuh ke dalam rasa takut akan kehilangan.

Meski belakangan hari sebelum saat itu, saya tidaklah begitu dekat dengan beliau.

Tak seperti saat kanak-kanak, yang saya sangat mengidolakannya. Entahlah, saya tak tahu mengapa.

Saya pun kemudian mendatangi oom yang rumahnya cukup jauh untuk mengabarkan keadaan bapak. Tak lupa saya juga mengabari tetangga yang saya kenal. Hingga akhirnya tetangga yang juga seorang Mantri datang untuk memeriksa.

Ternyata benar, bapak sudah berpulang. Tak ada lagi hela nafas dan detak jantung yang dirasakan. Tak lama kemudian rumah kami pun dipenuhi pelayat, bahkan keluarga yang berada nun jauh disana hadir. Namun, kebanyakan tak saya kenali.

Telah tujuh tahun sejak saat itu berlalu.

Saya yang masih berseragam putih abu-abu kini telah berusia 24 tahun, bahkan telah lulus kuliah, kini saya sarjana. Pencapaian pendidikan yang diimpikan dan diraih dengan susah payah.

Bukan oleh saya, tapi ibu yang membanting tulang untuk membiayai. Namun kini saya masih merasa biasa, tak termotivasi.

Karir tak bergerak pesat, jalan di tempat. Seperti tidak berjalan, atau malahan mundur ke belakang.

Peristiwa pagi ini sedikit menghentak. Di usia yang tak lagi remaja, semestinya tak lagi membebani ibu.

Saya tak ingin keadaan tak bisa apa-apa saat kepergian bapak, terjadi saat kepergian ibu. Saya ingin ibu bahagia saat meninggalkan saya. Atau saat saya meninggalkan ibu.

Ya Allah, kuatkanlah keyakinan hamba-Mu yang lemah ini untuk membahagiakan ibu,menyelesaikan tugas-tugas yang masih tersisa dan bersama ibu, saya ingin berdo’a di Ka’bah, Ya Allah, berkunjung ke rumah-Mu.

Amin.

Kamis, 19 Februari 2015.

Hamba-Mu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s