Home

Jpeg

Sujono baru saja selesai memilah bahan rotan yang akan  dijadikan berbagai kerajinan. Sambil beristirahat sejenak, lelaki yang telah memasuki usia kepala enam ini mulai menyeduh segelas kopi bubuk instan.

Pagi itu sekitar pukul 10.00 WIB, ia tak sendiri. Total ada empat perajin rotan di Toko Kirana yang berlokasi di Jalan Yos Sudarso, Rumbai, Pekanbaru.

Sementara Sujono masih menyeruput kopi kesukaannya, seorang perajin lelaki lainnya sibuk mewarnai bahan rotan, sedangkan dua perajin perempuan  merangkai rotan menjadi berbagai perabotan rumah tangga.

Di toko yang berukuran sekitar 4×6 meter itu menyediakan beragam perabotan rumah tangga, mulai dari tudung saji, rak, hingga meja dan kursi yang semuanya berbahan dasar rotan.

Untuk harga sendiri berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan pembuatannya.

“ Harganya macam-macam, mas. Kalau kursi bisa  sampai Rp. 5 jutaan. Tapi kalau kayak tudung saji, sekitar Rp. 150 ribu,” ujar Sujono sambil menunjuk ke arah tudung saji yang di gantung.

Bahan baku rotan menurut  Sujono didapatkan dari berbagai lokasi, semisal Padang dan Pulau Jawa. Namun paling sering dari lokal seperti Kecamatan Tapung dan Sungai Pagar, Kabupaten Kampar.

“Kalau biasanya harga sekitar Rp 14.000 per kilogram. Kalau mahal-mahalnya sekitar Rp 30 ribuan, ” sebutnya.

Ingin Berjualan Hingga Ke Luar Negeri

Dikatakan Sujono, saat ini pemasaran produk olahan rotannya masih berada di skala Pekanbaru saja. Belum sampai khusus mengirimkan keluar daerah, apalagi di ekspor ke mancanegara.

“Ya, masih sekitar sini. Ada juga orang luar negeri  yang beli, tapi masih buat pribadi mereka. Bukan buat dijual lagi,” kisahnya.

Meski tak menampik bahwa ia memiliki keinginan produk kerajinan rotan olahannya bisa dikirim ke luar daerah, bahkan ke luar negeri.

“Biar orang luar juga tahu kalau kita punya produk yang bagus. Ya, kayak rotan ini.”

Sujono juga mengatakan dirinya pernah beberapa kali mengikuti pameran yang digelar oleh pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pekanbaru.

“Dinas juga sering memberi bantuan alat dan bahan,” katanya.

JpegTetap Optimis Meski Penjualan Menurun

Menjalani profesi sebagai perajin rotan selama 45 tahun, banyak suka duka yang telah dialami.

“Ya senangnya kalau jualannya laku, sedihnya ya kayak sekarang. Peminatnya sepi, mungkin karena harga-harga kebutuhan pada naik,” ujarnya.

Menurut Sujono, jika daya beli masyarakat dalam kondisi baik, ia mengaku dalam sebulan  bisa menjual kerajinan rotan hingga Rp 30 jutaan.

“Kalau sekarang agak-agak tersendat. Hampir-hampir ga makan,” katanya seraya tertawa.

Sementara itu, seorang calon pembeli, Arif mengatakan tertarik dengan perabotan rumah tangga dari olahan rotan, meski kini banyak produk dari pabrik yang memiliki beragam model dan pembeliannya bisa secara kredit.

“Ini kan lebih unik. Ya, sekaligus membantu pelaku industri kecil,” katanya.

Diakui oleh Sujono, banyaknya toko yang menjual perabot rumah tangga bukan rotan yang diproduksi oleh pabrikan menjadi persoalan tersendiri.

Namun ia tetap optimis produk kerajinan rotannya dapat bertahan. Seperti optimisme puluhan perajin rotan lainnya yang berjualan di sepanjang Jalan Yos Sudarso.

Apalagi dikatakannya, perabotan rumah tangga dari rotan memiliki penggemarnya sendiri.

“Kalau saya tetap optimis kedepannya. Paling-paling saya berhenti jadi perajin rotannya kalau sudah meninggal,” ujarnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s