Home

1424947895573Minggu  siang  sekitar pukul 13.00 WIB, Joko tengah asik memilih kemeja yang dipajang di sebuah toko pakaian bekas. Lelaki yang juga mahasiswa ini pun telah mencoba berbagai  kemeja yang dianggapnya menarik.

Setelah cukup lama berada di toko yang berukuran 1,5×1,5 meter itu, hampir satu jam. Ia pun memutuskan mengambil sebuah kemeja putih  lengan pendek bermotif bunga.

Saat itu, ia hanya membayar Rp 15 ribu. Harga murah itu didapatkannya setelah tawar menawar yang cukup alot dengan pedagang.

“Akhirnya bisa murah juga. Tadi awalnya Rp 30 ribuan sih,” ceritanya.

Toko tempat Joko membeli kemeja bekas ini berlokasi di pasar pakaian bekas yang dikenal dengan nama Monja. Berlokasi di Jalan Ahmad Yani, di belakang Plaza Sukaramai, Pekanbaru. Selain itu juga bisa dijangkau melalui Pasar Tradisional Kodim.

Gedung pasar sendiri terdiri dari empat kategori. Basement dan lantai dasar diperuntukkan bagi pedagang kebutuhan pokok. Lantai satu digunakan oleh pedagang kosmetik, sepatu dan tas, baik dalam kondisi baru maupun bekas.

Nah, di lantai dua lah pengunjung dapat menemukan berbagai pakaian baru maupun bekas. Namun di sini mayoritas yang dijajakan pedagang adalah pakaian bekas.

Kaos, kemeja, jas, serta celana pendek maupun panjang dan bermacam pakaian lainnya bisa didapatkan di tempat ini. Bahkan pakaian dalam bekas semisal bra dan celana dalam diperjualbelikan.

Pakaian Bekas Jadi Incaran Anak Muda

Jika dahulunya pakaian bekas identik dengan kalangan tua dan ekonomi menengah ke bawah. Namun kini sudah berubah. Para remaja, perempuan maupun laki-laki dapat di temui dengan mudah dan bahkan mereka dengan ekonomi mapan.

Meski pasar telah dibuka sekitar pukul 9 pagi. Namun, semua toko baru buka setelah pukul 11.00 WIB.

Seperti hal nya Yuni, seorang pengunjung yang ditemui siang itu. Menurut perempuan yang sehari-hari berprofesi sebagai karyawan swasta,  kualitas produk yang bagus menjadi alasannya tertarik datang ke pasar ini. Selain tentunya harga pakaian yang murah meriah.

“Apalagi modelnya beragam dan tak pasaran. Terus mereknya terkenal lagi,” katanya sambil menyeka keringat.

Dikatakan perempuan berhijab ini, berbelanja pakaian bekas dapat menghemat pengeluarannya dalam berbelanja pakaian. Ia pun menyebut dengan uang sebesar Rp. 100 ribu bisa membeli lebih dari empat item. Meski ia harus rela  berpeluh keringat, dikarenakan kondisi pasar yang panas karena hanya berpendingin kipas angin.

1424947895291

“Kalo di mal paling dapat satu. Itu pun yang kualitasnya ga bagus-bagus amat, ” jelasnya sambil memperlihatkan kemeja dalam kresek hitam yang baru dibelinya.

Namun begitu, menurut Yuni, berbelanja pakaian bekas membutuhkan ketelitian. Karena pakaian yang ditawarkan pedagang bukan produk baru.

“Harus di cek dulu, mas. Ada sobekan ga, atau ada kena luntur ga. Harus jeli. Terus sebelum dipakai harus dicuci bersih juga. Kalau saya malahan direndam air panas juga. Biar aman,” kata perempuan  26 tahun ini mengingatkan.

Hal itu pun diamini oleh Dedi, pedagang pakaian bekas di pasar ini. Dikatakannya, dikarenakan pakaian yang dijualnya merupakan produk bekas sehingga sebaiknya dicuci bersih dan lebih baik jika juga direndam air panas untuk membunuh kuman yang terdapat di pakaian.

“Selama ini belum ada komplen juga dari pelanggan tentang dampak buruk pakaian bekas yang dibeli terhadap kesehatan. Ya, semoga nggak ada,” ujarnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s