Home

Siang selepas sholat Jum’at, seorang teman mengajukan pertanyaan kepada saya.

“Pilih jadi orang yang suka berburuk sangka atau jadi orang yang buruk rupa,” tanyanya.

Pertanyaan yang tak mudah untuk dijawab. Apalagi saat itu saya sedang kelaparan, jadinya ya jawab sekenanya.

“Jadinya apa,” desaknya karena saya masih terdiam.

Hmm. Bagi saya tentulah sangat menyiksa jika menjadi orang buruk sangka. Kehidupan saya tak kan pernah bahagia karena selalu memikirkan hal-hal yang banyak tidak baiknya.

Ya, kalau sekadar perasaan curiga sih tentu tidak menjadi masalah. Karena akan mengajarkan kita untuk waspada.

Sedangkan menjadi buruk rupa tentu akan terasa amat menyiksa. Tentu semua tahu kisah ‘Beauty and The Beast’ yang sang pria memiliki perawakan buruk rupa. Hingga tak ada yang berani mendekati, apalagi wanita.

Mujurnya pada akhir cerita sang pria hidup bahagia karena menemukan cinta sejatinya.

“Nah, memangnya ada yang seperti itu di dunia nyata,” ujar saya.

“Tapi kan kalau buruk rupa jadinya ga banyak godaan dunia. Terutama soal wanita,” yakin teman saya.

“Benar juga ya,” gumam saya.

Meski begitu menurut saya tentu tidak mudah menjadi buruk rupa atau buruk sangka.

Namun satu hal yang pasti. Tidak ada yang ingin menjadi orang buruk rupa yang selalu berburuk sangka.

Advertisements

One thought on “Buruk Rupa Vs Buruk Sangka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s