Home

Seperti kebanyakan orang, saya juga punya hobi nongkrong. Nah, kalau sudah begitu bisa-bisa lupa waktu.

Untungnya saya tidak pernah lupa sholat, maklum sudah diajarkan orangtua untuk menjadi lelaki sholeh sejak masih muda.

Ada satu tempat favorit saya yakni tempat penyewaan Play Station (PS) 3. Letaknya tak jauh dari tempat tinggal saya, tak sampai lima menit kalau pakai motor roda dua.

Tentunya saya tak sendiri, karena ada dua teman lainnya. Kami bertiga hobi nongkrong di tempat ini. Ya tentunya main game sepakbola seperti minat pemuda lainnya.

Tempatnya luas, karena dari dua bangunan yang digabungkan, meski suasananya sedikit panas. Sehingga kami selalu memilih tempat yang di dekat jendela atau tepat di bawah kipas anginnya.

Namun kelebihannya adalah dirasa aman saat memarkirkan kendaraan. Karena ada CCTV yang mengawasi, apalagi harga sewanya murah, lima jam hanya Rp 20 ribu saja.

Bahkan kalau semakin lama hitungan per jam nya semakin murah. Tak heran kami pernah bermain sangat lama, dari jam 3 sore sampai hampir 12 malam.

Ditambah lagi ada jualan makanan dan minuman juga. Jadi tak perlu memikirkan persoalan lapar dan dahaga. Yang penting uang bayarnya ada.

Namun kini niat kami bermain game menjadi berubah sejak beberapa waktu lalu.

Kisahnya bermula dari keisengan teman saya bertanya-tanya kepada operator tempat sewa. Ternyata di tempat itu ada akses wi-fi nya, dan gratis pula.

“Ini password nya,” sebut teman saya.

Tak berpikir lama maka kami akses lah wi-fi nya. Sebagai golongan minim kuota maka kesempatan ini tentu sangat langka.

“Tak mungkin dibuang percuma,” gumam saya.

Kami download lah apa saja yang bisa, mulai dari lagu, e-book, aplikasi game hingga video sebanyak yang penyimpanan data  handphone kami bisa.

Hingga tanpa sadar masing-masing kami lebih tertarik urusan dunia maya dari pada game sepakbola.

Sampai suatu hari saking asiknya saya di dunia maya, permainan game saya menjadi payah.

Saya tak pernah menang satu kali pun bermain game sepakbola selama ber jam-jam bertanding di sana. Hingga saya pun menyimpulkan kekalahan saya karena godaan wi-fi gratisnya.

“Itu sih bukan karena wi-fi gratisnya, ya lu nya aja yang lemah,” sambar teman saya sambil tertawa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s