Home

Hari masih pagi ketika saya tiba di perempatan lampu merah (lampu lalu lintas), waktu masih menunjukkan pukul 9.45 WIB saat itu. Namun cuaca sudah sangat panas, terik matahari terasa menyengat kulit.

Meski begitu dari kejauhan tampak tiga bocah dengan lincahnya menawarkan koran-koran yang dibawa sebagai jualan mereka kepada pengendara yang berhenti.

Seorang bocah laki-laki dan dua bocah perempuan. Perkiraan saya bocah laki-laki tersebut berusia sekitar 10 tahun dan bocah perempuan sekitar 5 atau 6 tahun.

Seorang bocah perempuan pun tepat melintas di samping saya sambil menawarkan sebuah koran yang ada di tangan kanannya sementara koran lainnya diapit di lengan kirinya.

Kulitnya agak kusam dan gelap karena paparan sinar matahari. Keringat tampak jelas membasahi kening bocah berambut panjang itu. Seingat saya dia tak mengenakan sandal apalagi sepatu untuk melindungi kakinya dari panasnya aspal saat itu.

“Koran, bang? Rp 3 ribu,” tawarnya sambil memperlihatkan salah satu koran kriminal yang populer di kota saya.

“Tidak,” jawab saya dan si bocah pun berlalu.

Sementara itu waktu masih menyisakan 104 detik lagi sebelum lampu merah berubah menjadi berwarna hijau.

Saya masih tetap asik memperhatikan bocah-bocah penjaja koran tersebut. Sesekali saya berpikir tentang aktifitas sekolah mereka, atau dimana orangtua mereka hingga membiarkan anak-anak mereka berada di jalanan yang penuh bahaya.

Sambil memperhatikan mereka, saya teringat akan percakapan saya dengan seorang teman beberapa hari sebelumnya.

Teman tersebut bercerita tentang pengalamannya menjajakan koran di lampu merah saat masih belia dulu. Bagaimana ia bersemangat ingin mendapatkan uang sendiri bahkan diusia sangat dini.

“Kalau hari libur jualannya dari pagi. Tapi kalau hari biasa, mulainya dari jam pulang sekolah,” ujar teman saya saat bercerita tentang aktifitasnya saat SD itu.

Tak terasa waktu berlalu, hingga raungan klakson kendaraan di belakang saya menyadarkan saya dari lamunan.

Ternyata lampu berwarna merah kini telah berubah menjadi berwarna hijau. Saya pun bergegas memacu kendaraan dengan membawa kisah pagi itu dalam kalbu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s